Hiu Punah 2026? Ini Dampak Buat Dompet Kita

Hiu Punah 2026? Ini Dampak Buat Dompet Kita

Hiu Punah 2026? Ini Dampak Buat Dompet Kita

Oleh Ahmad Faruq Al-Anshari

"Barang siapa yang tidak memikirkan masa depan, maka ia tidak akan hidup sampai masa depan." Kita semua tahu, ini bukan sekadar tentang hiu yang mungkin punah. Ini adalah soal kita, manusia, yang terus merusak tanpa berpikir panjang.

Jujur aja, isu punahnya hiu ini bukan cuma soal ekosistem laut yang terganggu, tapi juga bisa bikin dompet kita menjerit. Bayangkan aja, ketika rantai makanan di laut rusak, harga ikan dan seafood bakal naik gila-gilaan. Ini bukan sekadar rumor, statistik terbaru menunjukkan penurunan populasi hiu mencapai 71% dalam 50 tahun terakhir.

Data ini bukan main-main. Lembaga konservasi global sudah memperingatkan kita berkali-kali. Tapi, seberapa sering kita dengar respons nyata dari pemerintah? Bukannya nambah aturan perlindungan, malah terus kasih izin penangkapan. Red flag banget kan?

Sebenarnya masalahnya sederhana: ketamakan. Selama uang menjadi raja dan eksploitasi dibiarkan, selama itu pula kita akan melihat spesies demi spesies menghilang. Kita harus sadar, setiap pembelian produk laut yang ilegal adalah kontribusi pada kepunahan.

Negara punya tanggung jawab moral untuk melindungi kekayaan alam ini. Bukan cuma demi keberlanjutan, tapi juga demi generasi mendatang. Apa kita tega mewariskan ketidakstabilan ekosistem dan kemelut ekonomi pada anak cucu kita?

Solusinya? Edukasi dan kesadaran. Kita butuh lebih banyak kampanye yang benar-benar sampai ke masyarakat, bukan sekadar ajang pencitraan. Pemerintah harus berani mengambil langkah tegas, seperti menghentikan izin ekspor dan meningkatkan patroli laut.

Di sisi lain, kita sebagai konsumen juga harus cerdas. Pilih produk yang jelas asal-usulnya. Jangan tergiur harga murah yang ternyata berdampak fatal bagi lingkungan.

Saatnya kita sadar, sekecil apapun tindakan, kalau dilakukan bersama bisa membawa perubahan besar. Jadi, masih mau diam aja?

Jadi, masih mau diam aja?